Minggu, 27 September 2015

(Bukan) Piknik Impian Kami yang Berkesan :)

Kapan terakhir kali kalian piknik? Kalau ada yang jawab, “Sudah lama”, atau malah “Nggak ingat,” aku nggak kaget. Soalnya untukku sendiri ide piknik ini sempat terasa mustahil. Bayangkan saja di awal aku dan Ray berkenalan kami sering berencana untuk piknik berdua, tapi baru terealisasi 8 tahun kemudian! Hahaha :D 

Waktu kecil aku sangat akrab dengan piknik. Hampir ke mana pun, ---terutama jika bersama Nenek,--- kami membawa tikar dan bekal makanan. Di taman asyik, di kebun binatang jadi, malah di pinggir jalan ketika macet pun oke-oke saja. Tapi setelah beranjak dewasa aktivitas piknik semakin berkurang hingga akhirnya menghilang sama sekali. Alasannya selain semakin sibuk, tempat nyaman untuk piknik pun semakin berkurang. Polusi di mana-mana dan... uh, piknik di taman komplek rumah bukan lagi ide bagus karena semakin gersang dan penuh dengan pedagang kaki lima :( Karena hal-hal inilah aku dan Ray hanya bisa berencana sambil mengkhayal tempat ideal untuk piknik kami. Well, sebenarnya kami sempat terpikir untuk piknik di museum, tapi ternyata dilarang membawa makanan dari luar, hahaha :p

Di zaman sekarang ini tempat nge-date ada di mana-mana. Mall ada di tiap belokan (eh, itu mah mini market, lol), bioskop besar sampai bioskop mini juga ada di hampir semua daerah. Belum lagi tempat-tempat yang bikin betah untuk berlama-lama nongkrong sambil menikmati wifi macam restoran atau foodcourt juga bukan lagi tempat yang ekslusif. Tapi tetap, aku dan Ray pengen banget bisa mengalami yang namanya piknik berdua. Selain waktu yang dihabiskan jadi lebih berkualitas, kami juga ingin bertukar masakan masing-masing. Kebetulan Ray suka sekali masak, dan aku... suka sekali bikin dapur berantakan alias bereksperimen. Belum lagi kalau kami bisa menikmati hari gadget free sambil melihat matahari terbenam, pasti keren banget tuh, hahaha :D

Makanya waktu Bandung, ---kota tempat di mana aku dan Ray tumbuh,--- sekarang menjadi kota yang memiliki banyak taman tematik, kami excited sekali. Nggak sabar rasanya mencoba piknik di salah satunya. Aku sendiri pernah ke taman film dan taman Cibeunying, tapi dalam rangka mengisi acara bersama ODHA Berhak Sehat dan D-100, bukan untuk ngedate, hehehe. Tempatnya sih nyaman-nyaman, tapi menurutku nggak pas untuk dipakai piknik atau makan-makan, ---jadi 2 taman itu kami keluarkan dari list. Akhirnya atas saran Ayu, ---temanku, kami memilih taman Masjid Agung Bandung. Katanya di sana cocok untuk piknik karena tempatnya luas dan jadi favorit para keluarga. Setelah tempatnya fix kami tinggal tentukan waktunya. Masih atas saran Ayu, kami putuskan untuk piknik di sore hari karena kalau siang (katanya) taman terbuka itu cukup terik.

Sekitar jam setengah 5 sore kami berangkat ke Masjid Agung. Di perjalanan kami super super super excited. Bayangkan saja penantian selama 8 tahun akhirnya hampir jadi nyata, hahaha. Kami sudah super siap dengan perbekalan kami. Aku membawa macaroni tuna, jus strawberry dan tentu my trusty friend... si ukulele pink, lol. Sedangkan Ray membawa tortilla chips dan saus keju buatannya. Nggak lupa aku juga sudah menyiapkan alas untuk kami duduk-duduk di rumput sintetis nanti (yup, bukan rumput sungguhan, sih... tapi better than nothing, kan). Pokoknya super siap, seolah disiapkan selama 8 tahun, hahaha. Waktu kami tiba di parkiran ternyata penuuuuh sekali. Mobil Hello Kitty kesayanganku sampai harus memutar beberapa kali. Tapi karena kami sedang super happy jadi itu bukan masalah ;)

Dari tempat parkir di basement kami harus melewati banyak penjual makanan dan mainan. Pokoknya ramai, mirip seperti suasana sebelum masuk ke Kebun Binatang Bandung. What a memory :D Butuh waktu sekitar 30 menit sampai kami bisa masuk ke area taman dan kami pun langsung disambut dengan... Lautan manusia! Hahaha... Aku sampai nggak mengenali taman Masjid Agung ini karena terlihat berbeda dengan yang dilihat di internet. Tempatnya indah, tentu. Tapi maksudku suasananya ramai sekali, sampai-sampai kami nggak bisa melangkah tanpa melewati seseorang yang sedang duduk. Aku dan Ray sempat kebingungan karena seluruh tempat nampaknya sudah terisi. Tapi akhirnya kami ‘menyempil’ di antara banyak pengunjung lain, hanya beberapa meter saja dari batas taman karena kami nggak bisa masuk lebih jauh lagi :p

Belum apa-apa kami sudah jadi pusat perhatian. Dengan canggung aku membentangkan kain untuk alas duduk kami (btw, kain ini diberi oleh salah satu pembacaku, namanya Caca. Thanks a lot, ya!) dan meletakan perbekalan di atasnya. Rupanya kami satu-satunya yang membawa perlengkapan piknik, ---pengunjung lain lebih memilih selonjoran langsung di rumput. Entah berapa kali aku mendapat pertanyaan tentang tujuan kedatangan kami, banyak yang mengira aku akan show atau semacamnya. Mungkin karena ukulele yang kubawa, hahaha. Tapi kami berusaha tetap tenang dan menikmati waktu. Di antara lautan manusia kami pun menikmati bekal dan mengobrol santai :)




Jujur saja, suasana taman Masjid Agung ini di luar dugaan kami. Piknik sunyi dan damai hanya tinggal khayalan. Bahkan untuk makan dengan tenang saja kami kesulitan. Banyak pengunjung yang kurang bisa menghormati kehadiran orang lain, mereka bermain bola sambil berlari-lari sementara ada yang sedang berusaha menikmati camilan sore. Beberapa kali aku terkena tendangan bola dan bahkan sampah kecil seperti tutup botol. Ajaibnya, kebanyakan yang bermain dengan liar bukan anak-anak, tapi justru para orangtuanya. Mungkin karena over excited mereka juga jarang yang meminta maaf. Sampai-sampai malah jadi aku yang menasehati, “Hati-hati Pak kalau main, kena kepala orang bisa bahaya,” hahaha. Dua hal lain yang mengganggu kenyaman kami, pengunjung juga banyak yang menyepelekan sampah. Bekal yang mereka bawa ada yang tercecer dan mereka enggan untuk memungutnya. Padahal tempat sampah disediakan di sudut-sudut taman, lho. Mungkin di foto juga terlihat kalau aku duduk di antara ceceran popcorn, hiks. Yang terakhir, dan yang paling membuatku sedih, saat adzan magrib berkumandang suasana riuh sama sekali nggak berubah. Yang mengobrol tetap nggak mengecilkan volume suaranya, dan yang main bola tetap sibuk menghajar kepala random citizen, lol. Well, meskipun nggak shalat, tapi at least homatilah yang sedang beribadah. Toh mereka juga pasti nggak suka kalau sedang private moment dengan Tuhan dengar suara orang yang ngobrol random tentang selfie dan Facebook, lol.



Dari pengalaman pertama kami, aku bisa membagi sedikit tips, nih. Siapa tahu saja bermanfaat untuk teman-teman yang berencana piknik ke taman Masjid Agung.
1. Sore hari memang jadi waktu yang paling sibuk, karena bertepatan dengan jam pulang kantor dan sekolah. Tapi jika ingin menghindari teriknya matahari jam 3 atau 4 sore adalah waktu yang tepat untuk menikmati suasana sore.
2. Bawa kantung plastik dari rumah. Karena sepatu dikhawatirkan mengotori rumput sintetis, ada baiknya disimpan saja di kantung plastik. Dan kantung plastik juga berguna untuk menampung sampah sementara jika kesulitan untuk mencapai tempat sampah yang berada di ujung-ujung taman. 
3. Bawa alas! Mungkin kalian akan mendapatkan tatapan yang bikin canggung, tapi trust me, alas itu bermanfaat sekali. Selain menjaga agar tubuh kita nggak terpapar langsung dengan rumput, alas juga menghindari bekal makanan kita tercecer dan meninggalkan jejak sampah saat pulang nanti. 
4. Selalu ingat bahwa ini adalah tempat umum, kita nggak pernah tahu akan bertemu dengan siapa. Aku dan Ray dihampiri oleh seorang little girl, anak dari orangtua yang berjualan di basement. Ia terus-terusan bertanya tentang bekal makanan kami, ukuleleku, bahkan tas yang aku bawa dan duduk di samping kami untuk waktu yang cukup lama. Be polite, jangan kasar. Jawab saja pertanyaannya seperti menjawab adik/keponakan sendiri karena ia juga sama-sama pengunjung di tempat ini. 
5. Bermain bola dan lempar tangkap panah karet bukan ide bagus untuk dilakukan di tempat ramai. You might hurt someone. Tapi jika suasana agak sepi, silakan.
6. Meski tamannya asyik, jangan lupa ini adalah bagian dari halaman tempat ibadah. Saat adzan hentikan dulu aktivitas, hormati orang-orang yang akan sholat di masjid.
7. Kalau kalian termasuk orang yang gampang terganggu dengan hal-hal kecil, piknik di taman Masjid Agung mungkin bukan ide yang bagus :)




Meski nggak mudah untukku dan Ray beradaptasi di sini, tapi kami tetap menikmati waktu berkualitas berdua (---di antara ratusan orang, hahaha). Bekal kami habis dan kami banyak mengobrol hal-hal seru. Kami bahkan baru ingat pulang setelah angin mulai bertiup kencang. Piknik kali ini memang nggak seperti khayalanku dan Ray 8 tahun yang lalu. Tapi nggak ada salahnya sesekali menikmati waktu di tengah-tengah suasana yang di luar comfort zone kami. Toh pada akhirnya dengan siapa aku menghabiskan waktu menjadi lebih penting daripada di mana aku menghabiskan waktu. Aku dan Ray tetap akan berusaha mewujudkan impian piknik kami, of course. Tapi piknik di taman Masjid Agung ini juga tetap akan dikenang dan tercatat sebagai piknik kami yang berkesan ;)

yang pikniknya bawa ukulele,


Indi

___________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Email: namaku_indikecil@yahoo.com

Senin, 21 September 2015

Kata Gaby; Tentang Kepergian :)

My two “little sisters”, Gaby dan Billa :)
  
Gaby (kiri) dan Billa (kanan) sangat kritis, jika ada yang mengganjal pasti akan bertanya.


Di hari pemakaman Kakek hampir seluruh keluarga besar hadir, termasuk 2 orang sepupuku, Gaby (8 tahun) dan Billa (6 tahun)

Gaby bertanya, "Kak, meninggal itu apa?"
"Meninggal itu artinya waktu tinggal di dunia sudah habis, ---sudah waktunya pulang ke tempat Tuhan," jawabku.
"Oh, ke surga ya?" tanya Billa.
Aku mengangguk, mengiyakan.

Kami bertiga duduk di ujung tangga sambil melihat keluarga dan kerabat yang saling berpelukan, melepas kepergian Kakek. 
Lalu tiba-tiba saja Gaby kembali bertanya, "Kenapa semua orang menangis? Seharusnya mereka nggak sesedih itu. Iya, kan Kak?"
Aku sedikit terkejut, tapi tetap berusaha tenang dan balik bertanya padanya, "Mereka menangis karena kangen sama Kakek... Memangnya kamu nggak kangen?"
Gaby tersenyum lebar, "Kan Kakak yang barusan bilang kalau Kakek pulang ke surga. Semua orang juga akan ke sana, kan? Jadi buat apa sedih? Nanti juga bertemu lagi."
Aku ikut tersenyum. Sepertinya aku baru saja mendapatkan pelajaran berharga dari seorang anak berusia 8 tahun... :) 


Kakek dan aku. Foto ini diambil di Villa Purwakarta. Kakek dimakamkan tepat di depan villa ini.


 Persembahan dariku untuk Kakek :)


yang suatu hari akan bertemu lagi dengan Kakek,

Indi

__________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Selasa, 08 September 2015

Jadi "Princess" di Exclusive Screening Disney Descendants :D

Heeeeey, it's me again, Indi! Lol. Belakangan adalah hari yang melelahkan, rasanya waktuku banyak dihabiskan di perjalanan. Jadi rasanya senang sekali bisa duduk di depan komputer dan kembali berbagi cerita di sini, hihihi. Teman-teman mungkin tahu kalau aku adalah penggemar film-film Disney, dan itu menginspirasiku dalam kehidupan sehari-hari, terutama caraku berpakaian. Dua tahun yang lalu, waktu film perdanaku, "Mika" diputar, aku menghadiri premierenya dengan memakai dress yang diinspirasi oleh Annie Little Orphan, ---salah satu drama musikal yang diremake oleh Disney. Lalu satu tahun setelahnya, aku mendapatkan peran di School Leavers sebagai Snow White. Dan yang terakhir, ketika Halloween tahun lalu, aku dan Ray memakai kostum Tinker Bell dan Peter Pan yang of course, kami ambil dari versi Disney. Bahkan kalau dilihat-lihat dressku sehari-haripun banyak yang terinspirasi oleh Disney. Lihat saja ada berapa banyak dress yang aku punya dengan desain seperti "dress Annie" dengan warna yang bermacam-macam, hihihi. Nah, siapa sangka my little Disney obsession membuatku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan :)

Waktu tahu ada kontes Disney Inspired di Instagram tanpa pikir panjang aku langsung ikutan. Alasannya karena rulesnya simple dan buatku sih easy peasy, hehehe. Aku cuma diminta untuk upload foto OOTD, ---outfit of the day, yang diinspirasi oleh tokoh Disney. Berhubung dressku kebanyakan memang terinspirasi dari tokoh-tokoh Disney, jadi aku upload 3 buah foto sekaligus. Meski begitu aku sama sekali nggak terpikir untuk jadi pemenang, soalnya aku lihat banyak yang foto OOTD nya keren-keren, ---benar-benar niat, bukan foto sehari-hari sepertiku. Tapi seperti biasa, saat mengikuti sesuatu aku hanya have fun. Menang atau kalau bukan masalah asalkan sudah berusaha, hihihi. Nah, waktu namaku keluar sebagai pemenang, aku sampai nggak percaya! Pasalnya aku baru saja bangun tidur, jadi jaga-jaga jangan terlalu excited karena siapa tahu cuma bermimpi, hihihi.

Hadiah yang aku terima super keren, ---at least bisa membuat teman-teman yang juga menggemari film-film Disney iri :p Aku diundang untuk menghadiri exclusive screening/premiere film Disney Descendants! Undangannya untuk 2 orang, ---aku sempat menulis nama Ray sebagai orang yang akan menemaniku, tapi berhubung di tanggal 5 September Ray masih bekerja, jadi aku meminta Bapak untuk menemani. Meski sudah bapak-bapak (lol), tapi Bapak juga penggemar film-film Disney. Dibanding Ibu beliau lebih sering menemaniku menonton di bioskop dan beliau benar-benar menikmatinya. Salah satu film Disney yang sangat berkesan untuk Bapak adalah Brother Bear. Meski sudah 12 tahun berlalu, tapi aku masih ingat dengan jelas waktu kami bertepuk tangan setelah filmnya selesai, hihihi. Well, meski Bapak nggak begitu menikmati film Disney bertemakan "Princess" yang keluar beberapa tahun belakangan (misalnya "Brave", "Frozen", etc) tapi aku berharap beliau menikmati film Disney Descendants. Aku sendiri belum melihat trailernya, tapi cukup penasaran karena di Instagram sepertinya banyak sekali yang nggak sabar untuk menonton film ini.



Karena screening diadakan di bioskop Epicentrum XXI Jakarta, aku dan Bapak berangkat pagi-pagi sekali dari Bandung. Syukurlah lalu-lintas super lancar, jadi kami bisa tiba tepat waktu cenderung kepagian, hehehe. Sekitar jam 9 pagi kami tiba dan langsung disambut oleh red carpet yang terbentang panjang. Suasana masih sepi, mungkin karena film baru dimulai 30 menit kemudian. Setelah menunjukan ID untuk ditukarkan dengan tiket, kami langsung masuk ke dalam. Di sana aku mendapatkan merchandise-merchandise lucu seperti T shirt, sablon DIY dan instant photo berframe Disney Descendants. Aku juga mendapatkan soft drink dan popcorn, ---yang kemudian disayangkan karena kemasannya aku buang padahal desainnya super cute, hahaha :p Baru saja duduk selama 5 menit, kami sudah dihampiri oleh kru. Awalnya aku nggak mengerti apa maksudnya karena mereka bolak-balik mengambil fotoku (harusnya aku mandi dulu sebelum pergi, lol). Rupanya mereka memasukkanku ke daftar best dressed karena outfit yang aku pakai dianggap menarik. Waktu ditanya aku dressed up sebagai siapa, aku bingung karena ini penampilanku sehari-hari, hihihi. I still won the prize, anyway. Aku mendapatkan buku The Isle of the Lost yang akan dikirimkan ke alamatku dalam waktu sekitar 2 bulan. Waktu aku mengabari Ibu tentang ini beliau langsung menyesal karena anaknya ini nggak dressed up dengan salah satu dress ala Disney buatannya :p





Film akhirnya dimulai, ---aku dan Bapak sengaja duduk di barisan tengah supaya lebih nyaman. Honestly, ini adalah premiere film kedua di mana aku dan Bapak bisa duduk dengan nyaman. Biasanya kami kebagian duduk di paling belakang karena terlambat datang, hahaha. Kami bahkan terlambat di pemutaran perdana filmku sendiri, ---untungnya untukku dan keluarga sudah ada tempat khusus. Bad habit. Jangan ditiru, ya :p Aku nggak akan spoiler soal ceritanya, tapi jelas sekali sejak menit-menit awal pun aku dan Bapak sudah tahu bahwa akan menikmati film ini. Menurut Bapak film ini cocok untuk ditonton oleh yang seusia denganku karena sudah pernah menonton film-film Disney yang terdahulu. Menurut beliau anak-anak mungkin nggak akan mengenal siapa itu Cruella Deville, Evil Queen dan teman-temannya kecuali orangtua mereka mengenalkannya. Tapi menurutku anak-anak juga bisa menikmatinya karena filmnya memang fun to watch... dengan gerakan dance dan lagu yang catchy sepertinya bisa membuat mereka betah menonton film ini :) Aku dan Bapak tertarik dengan 2 hal yang berbeda dari film ini. Bapak tertarik sekali dengan outfit yang para cast nya pakai. Katanya, "Kok bisa kepikiran ya bikin desain seperti itu?". Sedangkan aku justru tertarik dengan salah satu cast seniornya, yaitu Kristin Chenoweth. Ah, selalu suka dengan dia, terutama setelah menonton Pushing Daisies dan drama musikal Wicked. Mendengarnya bernyanyi di film ini membuat mataku berkaca-kaca, ---kok suaranya bisa bagus amat, ya? Hihihi. Dan seperti film Disney lainnya, Disney Descendants pun diakhiri dengan pesan moral yang manis. Ini adalah salah satu yang membuatku jatuh cinta dengan film-film Disney nggak peduli jika usiaku 8, 18, 28, 38, ---atau bahkan 800 tahun, lol.




Setelah filmnya selesai kami langsung bersiap pulang karena sudah tengah hari dan somehow berfirasat perjalanan akan macet nggak seperti tadi pagi, hehehe. Di dekat pintu keluar ternyata aku melihat Jessica Yamada, seorang blogger yang juga teman Facebook (atau malah di Friendster juga?) sejak 6 tahun yang lalu. Jessica, ---yang biasa dipanggil Jess datang dengan adiknya, Elle. Sedikit silly story, karena ini adalah kali pertama aku bertemu dengannya, aku salah mengenali Elle sebagai Jess, hahaha. Entah kenapa di mataku mereka terlihat mirip, padahal menurut Bapak mereka sangat berbeda. Untung saja salahnya nggak berlangsung lama karena Jess langsung menyapaku, ---atau secara halus mengingatkanku, "kamu salah orang kali, Ndi!", lol.
Sepanjang perjalanan pulang aku dan Bapak nggak bisa berhenti membicarakan film Disney Descendants yang baru saja kami tonton. Siapa sangka bahwa movie made for TV bisa membuat kami terkesan. Terakhir aku merasakan ini tahun 1999, lalu waktu Disney membuat Annie sebagai FTV. Jadi film ini benar-benar worth to watch, nggak menyesal kami harus menempuh perjalanan Bandung-Jakarta-Bandung dan terjebak macet ketika perjalanan pulangnya, hehehe. 

Untuk teman-teman yang ingin menyaksikan film ini, tanggal 13 September 2015 nanti Disney Descendants akan diputar di Disney Channel jam 10 pagi. Siapkan popcorn yang banyak, kalian akan bersenang-senang! ;)

not as white as a snow, ---but still cast as a snow white,

Indi

 __________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469

Rabu, 02 September 2015

More about Shave for Hope :)


Welcoooome September! Whoaaa, rupanya sekarang sudah masuk bulan baru, ya. Mungkin karena belakangan aku cukup sibuk beraktivitas (---well, dua minggu sakit batuk juga menambah kesibukanku, hehehe), waktu jadi terasa cepat :D Bulan Agustus ini ditutup dengan kemenanganku di kontes Disney Inspired untuk menghadiri premiere Disney Descendants dan dengan menjadi social angel di event Shave for Hope terbaru.

Soal kontesnya kapan-kapan akan aku ceritakan, tapi sekarang aku akan bercerita lebih banyak tentang Shave for Hope. Yang membaca postku sebelumnya pasti tahu kalau beberapa hari lalu aku menantang teman-teman untuk mengikuti Shave for Hope 2015 Challenge. Well, akhirnya ada 2 orang yang menjawab tantanganku, yaitu Syifa dan Tisya. Mereka rela memotong rambutnya untuk menemani adik-adik pengidap kanker yang terpaksa kehilangan rambut. Nantinya video pemotongan rambut mereka akan diuangkan senilai Rp. 100.000 (masing-masing) dan akan digunakan untuk membantu biaya pengobatan adik-adik di YPKAI-3C (Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia).


Video proses pemotongan rambutku :)


Social Angels :)

Sebelum dan sesudah pemotongan rambut :)


Event Shave for Hope kali ini memang berbeda dengan 2 tahun yang lalu, tahun ini rambut yang dipotong nggak dijadikan wig, tapi diuangkan. Kita diberi kebebasan untuk menentukan mau dikemanakan potongan rambutnya nanti. Boleh disimpan, dibuang, atau malah didonasikan di tempat lain. Kalau aku sendiri, sama seperti yang kulakukan tahun lalu, ---potongan rambut akan didonasikan pada organisasi yang menyediakan wig untuk anak-anak yang kehilangan rambut. Aku sudah pernah share caranya di sini dan di sini, tapi nanti akan kutulis ulang kalau-kalau ada teman-teman yang ingin melakukan hal yang sama :)

Tantangan video Shave for Hope memang sudah berakhir, tapi untuk yang ingin berdonasi  masih bisa, lho. Teman-teman bisa mengirimnya ke: Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, 117-00-00222026 Bank Mandiri Cabang RS Kanker Dharmais. Dan jangan lupa ikuti potong rambut masalnya. Sama seperti video, rambut kalian akan diuangkan senilai Rp. 100.000 dan digunakan untuk membantu adik-adik di YPKAI-3C. 

Acaranya akan diadakan di: Lippo Mall Kemang, Jakarta
Pukul: 10.00 sampai 22.00
Tapi sebelumnya jangan lupa untuk registrasi terlebih dahulu karena tempatnya terbatas. Caranya buka www.shaveforhope.org lalu klik “registration” nanti kalian akan mendapatkan email konfirmasi. Mudah, kan :)

Sampai hari ini tulisanku mengenai donasi rambut masih menjadi yang paling banyak dikunjungi. Aku menerima banyak sekali email yang bertanya tentang itu. Rupanya banyak yang masih belum tahu bahwa rambut, ---yang biasanya hanya disapu di lantai salon setelah dipotong, bisa menjadi sangat bermanfaat. Waktu menulisnya aku hanya ingin berbagi pengalaman, sama seperti saat aku menulis hal-hal lain. Jadi aku sama sekali nggak menyangka akan mendapatkan banyak perhatian. Katanya kalau berbuat kebaikan cukup diri sendiri saja yang tahu. Tapi menurutku it’s okay untuk membaginya selama tujuannya bukan pamer. Karena saat semakin banyak orang yang tahu, semakin banyak juga yang terinspirasi. Dan saat semakin banyak yang melakukannya, maka semakin banyak pula yang dibantu. It's just a chain reaction... Jangan berhenti berbagi! :) 

yang baru potong rambut,

Indi


 ________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469